Filantropi Kecil

on Minggu, 19 Januari 2014
Tidak terasa sudah sebulan saya jadi pengangguran tulen hehehe... Setelah wisuda di tanggal 18 Desember 2013 kemarin sampai sekarang saya masih menunggu panggilan perusahaan dari lamaran yang telah saya masukan atau panggilan tes kerja tahap berikutnya. Walaupun kadang-kadang saya masih suka main ke kampus, tetapi kebanyakan masa pengangguran saya lebih banyak dihabiskan di rumah. Lucunya dari bangun sampai tidur kembali laptop saya selalu menyala. Kasihan si laptop ini, hanya bisa istirahat ketika sang empunya tertidur hehehe... Saat ini si laptop mungkin jadi sahabat paling dekat dengan saya. Banyak yang saya lakukan dengan sahabat saya ini seperti browsing internet, menonton film, main games, atau hanya sekedar memutar musik saja.

Di zaman yang serba modern ini kehidupan kita tidak bisa dilepaskan dengan yang namanya internet, dengan menggunakan internet dunia seakan tidak mempunyai jarak dan batas. Kita dapat melihat, membaca atau mendengarkan informasi dari belahan dunia manapun lewat internet. Dimasa pengangguran ini banyak waktu saya habiskan untuk berselancar di internet. Selain untuk cek email yang masuk dan website pencari kerja seperti jobstreet.co.id, saya paling suka membaca website-website portal berita seperti: goal.com, kompas.com, detik.com, viva.co.id, tempo.co, beritasatu.com dan lain-lain. Banyak waktu saya habiskan untuk membaca berita terbaru di website-website tersebut, tentu selain website-website lainnya saya baca untuk sedikit menambah pengetahuan.

Sekitar 2 hari kemarin ketika membuka portal berita detik.com, saya menemukan berita yang sangat menarik yang berjudul "Siapa Bisa Saingi Rp 1.000 Triliun Bill Gates ?" Saya kemudian membaca berita tersebut, dari berita tersebut saya baru mengetahui bahwa ternyata pada pertengahan tahun 2013 Bill Gates kembali menjadi orang terkaya di dunia menggeser Carlos Slim yang sebelumnya sempat tiga tahun berturut-turut menjadi orang paling kaya di muka bumi ini. Walaupun sudah tak lagi aktif di Microsoft namun kekayaan pria jebolan drop out Harvard University ini seakan tak ada habisnya, malah terus bertambah meskipun dia sering banyak beramal melalui yayasan yang didirikan bersama sang istri, Melinda Gates. Saat ini total kekayaan mencapai USD 78,5 miliar atau sekitar Rp 973,4 triliun. Hebatnya, jumlah uang yang dimiliki Bill Gates saat ini bahkan bisa menyaingi seluruh pendapatan domestik bruto alias GDP sebuah negara seperti Kroasia ataupun Estonia. Bahkan kekayaannya mempunyai persentase 0,01% jika dibandingkan dengan total GDP seluruh negara di dunia. Pada berita "Siapa Bisa Saingi Rp 1.000 Triliun Bill Gates ?" dijelaskan terdapat delapan orang yang berpotensi besar untuk mengalahkan kekayaan Bill Gates.


Pertama adalah Mark Elliot Zuckerberg CEO Facebook. Meskipun berusia muda, cerdas, dan kaya raya tetapi semua kelebihan itu tidak membuat Mark Zuckerberg jadi sombong dan banyak gaya. Bahkan dalam kesehariannya dia terkesan sangat sederhana untuk seorang anak muda yang punya harta kekayaan berlimpah. Di usianya yang baru 29 tahun, Billionaire Index menyatakan tercatat Mark Zuckerberg telah mengumpulkan pendapatan sebanyak USD 12,4 miliar atau sekitar Rp 154 triliun sepanjang 2013. Sementara Forbes memberikan taksiran USD 19 miliar atau sekitar Rp 229 triliun. 

Kelebihan Mark Zuckerberg yang mungkin patut diacungi jempol selain visinya soal bisnis social media, mantan hacker ini juga seorang filantropis sejati. Ia bisa dibilang salah satu miliarder paling dermawan. Menurut penelitian Chronicle of Philantropy, Mark Zuckerberg menyumbangkan uang senilai USD 990 juta untuk lembaga amal Silicon Valley Community Foundation. Jumlah sumbangan sebanyak itu, sekitar Rp 11,3 triliun kalau dirupiahkan telah membuatnya menjadi orang yang paling dermawan di antara para miliarder di Amerika Serikat sepanjang tahun 2013. Mark Zuckerberg sudah lama dikenal sebagai sosok murah hati. Pada Desember 2010 dia bersama Bill Gates, Warren Buffet serta para miliarder lainnya menandatangani deklarasi Giving Pledge untuk menyumbangkan sedikitnya separuh kekayaan mereka untuk misi kemanusiaan.

Kedua adalah Larry Ellison sang pendiri Oracle yang dikenal sebagai sosok eksentrik dan gemar bermewah-mewahan layaknya Tony Starks "Iron Man" di dunia nyata. Kekayaannya pria yang memasuki usia 68 tahun ini di perkirakan mencapai USD 43 miliar atau Rp 518 triliun dan masuk lima besar di Forbes Billionaires. Meski kekayaannya berlimpah namun Ellison juga tak melupakan sisi kemanusiaan. Bersama kolega miliarder lainnya seperti  Bill Gates dan Waren Buffet, Ellison pun tak jarang ikut menggalang dana bantuan kemanusiaan. Memang untuk menjadi seorang filantropis, Ellison masih kalah populer dibandingkan Bill Gates. Tetapi setidaknya ia termasuk sebagai orang super kaya yang cukup dermawan dengan seringkali menyumbangkan "sedikit" harta kekayaannya.

Disini saya hanya menjelaskan dua dari delapan orang yang berpotensi besar untuk mengalahkan kekayaan Bill Gates karena kedua orang tersebut yaitu Mark Elliot Zuckerberg dan Larry Ellison menarik perhatian saya. Selain mempunyai harta kekayaan yang luar biasa dan merupakan salah satu diantara orang-orang paling kaya di muka bumi, mereka berdua juga merupakan orang yang murah hati dan mempunyai jiwa sosial atau kepedulian terhadap sesama yang begitu tinggi. Selanjutnya saya akan coba share cerita tentang kebaikan dari James Bender dalam bukunya yang berjudul  How to Talk Well yang saya dapatkan dari Broadcast Blackberry Messager beberapa tahun yang lalu sebagai berikut:

Menyebutkan sebuah cerita tentang seorang petani yang menanam jagung unggulan dan sering kali memenangkan penghargaan sebagai petani dengan jagung terbaik sepanjang musim.
Suatu hari seorang wartawan dari koran lokal melakukan wawancara dan menggali rahasia kesuksesan petani tersebut, wartawan itu menemukan bahwa petani itu membagikan benih jagungnya kepada para tetangganya.
Wartawan tersebut bertanya, "Bagaimana anda bisa berbagi benih jagung dengan tetangga anda, lalu bersaing dengannya dalam kompetisi yang sama setiap tahunnya ?" tanya wartawan dengan penuh rasa heran dan takjub.
Petani tersebut menjawab, "Tidakkah anda mengetahui bahwa angin menerbangkan serbuk sari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang lain. Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang. Jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula" jawab si petani.
Petani ini sangat menyadari hukum keterhubungan dalam kehidupan. Dia tidak dapat meningkatkan kualitas jagungnya jika dia tidak membantu tetangganya untuk melakukan hal yang sama.

Dari cerita tersebut mungkin kita dapat menarik kesimpulan, orang-orang seperti  Bill Gates, Warren Buffet, Mark Elliot Zuckerberg dan Larry Ellison masih akan terus menjadi orang-orang kaya di muka bumi ini meskipun mereka terus menerus menyumbangkan harta kekayaannya untuk kepentingan kemanusiaan. Bahkan diantara mereka ada yang menyumbangkan sebagian besar hartanya. Kisah-kisah orang tersebut seharusnya bisa membuka mata kita semua bahwa di dalam kehidupan, mereka yang ingin menikmati kemakmuran harus memulai dengan berusaha meningkatkan taraf hidup orang-orang di sekitarnya.

Oleh karena itu Warren Buffett dan Bill Gates mengajak para miliarder lainnya untuk menyumbangkan kekayaannya demi kepentingan kemanusiaan. Pada bulan Desember 2010 para miliarder di Amerika Serikat menandatangani deklarasi The Giving Pledge, dimana mereka berkomitmen untuk menyumbangkan sedikitnya separuh kekayaan mereka untuk misi kemanusiaan. The Giving Pledge itu sendiri di deklarasikan oleh Warren Buffett dan Bill Gates yang merupakan kampanye untuk mendorong orang-orang terkaya di dunia membuat komitmen untuk memberikan sebagian dari kekayaan mereka untuk menjadi seorang filantropi. Kampanye ini secara khusus berfokus pada miliarder. The Huffington Post melaporkan pada April 2012 bahwa telah ada 81 miliarder yang berkomitmen untuk memberikan setidaknya setengah dari kekayaan mereka untuk amal dan pada Juli 2013 telah tercatat 113 miliarder telah mendatangani The Giving Pledge yang terdiri dari individu, pasangan, kelompok atau keluarga.
  
Dari tulisan ini banyak ditemukan kata "Filantropi". Mungkin saat ini tidak banyak yang mengetahui arti dari kata tersebut, termasuk saya sendiri sebelum melakukan googling hehehe... Dari yang saya temukan filantropi berasal dari bahasa Yunani yaitu: philein yang berarti cinta dan anthropos yang berarti manusia. Jadi filantropi adalah tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia, sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain. Istilah ini umumnya diberikan pada orang-orang yang memberikan banyak dana untuk amal. Biasanya, filantropi seorang kaya raya yang sering menyumbang untuk kaum miskin. Selanjutnya saya akan coba kembali share cerita tentang kebaikan sebagai berikut:

Suatu hari Fatimah binti Muhammad sedang jatuh sakit. Selama itu Fatimah dirawat oleh suaminya, Ali bin Abi Thalib. Selama Fatimah sakit Ali tak segan menggantikan tugas beliau sebagai istri, dengan halus Ali bertanya pada Fatimah "Adakah sesuatu yang sedang istrinya inginkan agar cepat sembuh ?"
Sejenak kemudian Fatimah menjawab bahwa ia menginginkan buah delima. Segeralah Ali berangkat ke pasar dan membeli sebuah delima. Sebuah? Ya, karena memang saat itu uang beliau hanya cukup untuk membeli sebuah delima saja
Dalam perjalanan pulang beliau melihat seseorang yang meringkuk sedih di sudut jalan. Setelah percakapan singkat, tahulah beliau bahwa orang tersebut begitu miskinnya hingga sudah dua hari tidak makan. Ali membagi delimanya menjadi dua bagian dan berkata“Tabahkanlah hatimu. Percayalah bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang baik. Bertasbihlah kepada Allah dan ambillah separuh buah ini semoga dapat meringankan penderitaanmu”
Sesampainya di rumah Ali menyerahkan delima yang hanya separuh itu kepada istri tercintanya
Lalu Ali berkisah tentang mengapa delima itu tinggal separuh. Mengetahui kisah itu justru membuat Fatimah lega dan semakin membaik.
Di tengah kegembiraan tersebut, Salman al Farisi bertamu ke rumah mereka sambil membawa sesuatu yang ditutup kain. Setelah mengucap salam, Salman menjelaskan bahwa yang dibawanya adalah sembilan buah delima. Salman berkata “Ini dari Allah, untuk rasul-Nya, dan seterusnya untuk Anda”. Mendengar jawaban tersebut Ali berkata “Tidak mungkin buah itu dari Allah, kalau benar dari Allah maka jumlahnya adalah 10" 
Ali berkata bukankah Allah berfirman “Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya pahala 10 kali lipat amalnya” (Al An’am: 160)
 Lalu Salman pun tersipu sambil mengeluarkan sebuah delima lagi dari lengan bajunya. Dia berkata “Tak terlintas dalam pikiranku untuk mengambil buah delima itu. Sesungguhnya aku bermaksud mengujimu karena begitu seringnya aku mendengar Rasulullah memuji keluasan ilmu dan kecerdasanmu”

Dari cerita tersebut juga kita mengetahui bahwa orang-orang yang dermawan akan di berikan ganjaran atau pahala di sisi Allah. Nah pertanyaannya sekarang setelah kita membaca cerita-cerita tentang berbagai macam kebaikan dan  telah mengetahui pahala dan ganjaran bagi orang yang dermawan, apakah kita masih akan hidup individualistis dan tidak memperdulikan kehidupan orang-orang di sekitar kita ? Sebagai mana kita ketahui masih banyak orang-orang yang kekurangan. Banyak laporan orang-orang kaya di Indonesia semakin kaya, pertumbuhan ekonomi ada di dalam kondisi yang bagus. Mungkin itu benar adanya, tetapi dengan melihat kondisi nyata  masih banyak orang-orang berada dalam kondisi kekurangan dan kesusahan, disini berarti kesenjangan sosial semakin melebar. Melihat kondisi seperti ini saya sangat prihatin dan bertanya-tanya di Indonesia banyak orang semakin kaya, apakah mereka hanya menumpuk kekayaannya saja dan tidak menolong orang-orang yang kesusahan ? Padahal mungkin saja jumlah orang-orang yang kekurangan akan berkurang jika orang-orang kaya menyumbangkan sebagian hartanya kepada mereka.

Dalam kehidupan mereka yang ingin menikmati kebaikan harus memulai dengan menabur kebaikan pada orang-orang di sekitarnya. Jika ingin bahagia, maka mereka harus menabur kebaikan untuk orang lain dan jika mereka ingin hidup dengan kemakmuran, maka mereka harus berusaha meningkatkan taraf hidup orang-orang di sekitarnya. Orang cerdas sejatinya adalah orang yang mencerdaskan orang lain, begitu pula orang yang baik adalah orang yang mau membaikkan orang lain. 

Mungkin saat ini kita tidak berada dalam kondisi yang mempunyai kekayaan berlimpah sehingga bisa menjadi  filantropi seperti Bill Gates, Warren Buffet, Mark Elliot Zuckerberg dan Larry Ellison yang menyumbangkan banyak uang untuk kepentingan kemanusiaan. Tetapi kita setidaknya bisa menjadi filantropi "kecil" yang selalu senang untuk terus membantu orang-orang disekitarnya, bukankah Allah tidak akan memberi batasan bagi hamba-Nya yang ingin membantu dan berbuat kebaikan ? Walaupun kecil,  pasti Allah akan ada ganjaran atau pahala. Untuk itu mulai sekarang mari kita menjadi filantropi-filantropi "kecil" yang bermanfaat bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Jika kita tidak mempunyai harta untuk disumbangkan, kita masih mempunyai ilmu yang bisa kita bagikan. Jika kita tidak mempunyai ilmu, kita masih mempunyai tenaga yang bisa kita gunakan untuk membantu orang lain. Dan apabila kita tidak mempunyai harta, ilmu dan tenaga, kita masih mempunyai hati yang bisa kita gunakan untuk mendo'akan orang-orang agar mendapatkan kebaikan di kehidupannya.

Selamat menjadi filantropi kecil yang menebarkan kebaikan dimanapun kalian berada . . . . 

1 komentar:

anshori d.i mengatakan...

alus io, nte bisa membukakan contoh2 orang2 yg berfilantropi dari berbagai kalangan..
masukan saya mah io, nte bisa untuk lebih memperdalam contoh yg saidina Ali, dan menghubungkannya dengan ar-Rob, agar manusia bukan hanya menjadi sekedar filantropi saja, mungkin bisa diawali dengan mengkaji Qs. 3: 190-191. hehe :)
goodjob io....

#weNotMe

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung dan silahkan berkomentar :)

Pages

@IoAddakhil. Diberdayakan oleh Blogger.